Kamis, 24 September 2009

sahabat

sepertiga purnama kendarai malam
dalam gelap dalam derap kesendirian
tempat angin menabur desahnya
tempat dewadewi suara menabur kesunyian
dalam sepi semua mulai diam
lalu aku memikirkanmu,
duhai sahabat penaku...

mungkin kita tak pernah sekalipun menyapa
kita tak pernah mengisi penuh
cangkir persahabatan kita dalam satu ruang
kita belum pernah saling bicara
ataupun menunjuk bintangbintang yang sama
namun kau adalah kebahagiaan
saat hariku sedang cerah
dan kau pemberi semangatku
saat aku sedih dan gelisah
seperti purnama memuji sinar mentari
akupun menghargaimu selayaknya pelangi
seperti pasir putih yang memandang laut berawan
akupun mengagumimu selayaknya 4 musim

waktu yang terus melaju
terus berpacu
dan kita semakin menua
kulit ini semakin kering
semakin pucat sepucat malam dingin
napas kita kian memendek
pandangan kita memudar
sepudar kabutkabut di pegunungan

namun sahabat,
tetaplah menjadi bagianku
tetaplah mengiringi langkahku
seperti napas yang menyelimuti kehidupanku
seperti air yang mengisi dahagaku
seperti lentera yang menemani malamku
seperti mimpi yang mengikuti tidurku
dan seperti janji pelangi
yang akan selalu hadir setelah hujan
akupun akan selalu menjadi bagianmu

aku dan kamu tau, sepasti pagi
bahwa jalan kita memang berbeda...

tapi,
kita tetap berjalan beriringan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar